MAKALAH AGAMA
(AKHLAK MULIA)
PENTINGNYA BERBAKTI TERHADAP KEDUA ORANG TUA
OLEH:
NUR IDAYATI
XI_KU2
SMK NEGERI 4 JEMBER
2014
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah
SWT yang telah memberikan beribu bahkan berjuta kenikmatan kepada kita,
shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada jungjunan alam
baginda nabi besar muhammad SAW, dan semoga sampai kepada kita selaku umatnya
amin yarobbal alamin.
Berkat nikmat,berkah
serta ridho Allah SWT akhirnya Saya berhasil menyusun makalah yang berjudul ” Bakti
Kita Kapada Ayah & Ibu” yang diajukan untuk memenuhi salah asatu tugas Agama.
Sebagai sarana
perbaikan dikemudian hari, maka kami mengharapkan berbagai kritik dan saran
yang sifatnya membangun.
Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi tercapainya waladun solihun yang benar – benar berbakti
terhadap orangtua mereka. Amin.
Wassalamu’alaikum
Wr.wb.
Jember, 20 Maret
2014
Nur Idayati
Pendahuluan
Manusia diciptakan saling keterkaitan satu dengan
lainnya. Dalam artian, manusia membutuhkan manusia lainnya untuk menjalani
hidupnya. baik dalam hal yang bersifat kecil dan terlebih dalam hal yang begitu
penting.
Namun tidak ada orang yang paling berjasa dalam
hidup kita selain orang tua kita sendiri. Mereka memberikan kasih sayang yang
sungguh luar biasa kepada kita sejak kita lahir hingga kapan pun mereka akan
tetap memberikan kasih sayangnya kepada kita.
Tanpa sedikit pun mengeluh mereka membesarkan kita
dengan penuh kesabaran, memberi makan kita dengan penuh keikhlasan, mendidik
kita dengan penuh cinta, dan banyak lagi jasa-jasa orang tua yang tidak akan
pernah akan terbalas.
Lalu apa yang akan kita lakukan untuk membalas semua
kebaikannya?
Allah memerintahkan kita sebagai orang muslim untuk
berbakti kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya ;
(8 : العنكبوت) {حُسْنًا بِوَالِدَيْهِ الإِْنْسَانَ وَوَصَّيْنَا
}: تَعَالَى اللهُ قَالَ
“
Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya” (Al
Ankabut 8).
Dalam makalah ini kami mencoba memaparkan hal-hal
yang seringkali terlupakan oleh seorang anak, yaitu keikhlasan dan kesadaran
akan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Kami sadari masiah jauh
mencapai suatu kesempurnaan dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami
harapkan tegur sapa akrab, berupa kritik maupun saran kepada kami untuk
kedepannya.
PENTINGNYA
BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
A.
Makna Berbakti kepada Kedua Orang Tua.
Makna berbakti kepada
kedua orang tua yakni berusaha membalas semua yang telah diberikan kedua orang
tua kita, meskipun semua kebaikan mereka tidak akan pernah bisa terbalas oleh
seorang anak. Oleh karena itu kita harus berusaha sebisa mungkin membuat orang
tua kita bangga membuat mereka bahagia.
Tanpa sedikit pun mengeluh mereka membesarkan kita
dengan penuh kesabaran, memberi makan kita dengan penuh keikhlasan, mendidik
kita dengan penuh cinta, dan tentu saja masih banyak lagi jasa-jasa orang tua
yang tidak akan pernah akan terbalas.
Selain itu sebagai anak kita harus mentaati semua
yang diperintahkan oleh kedua orang tua kita namun dalam batasan tidak keluar
dari aturan-aturan Allah SWT. dan Rasul-Nya.
B.
Keutamaan Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Rasulullah SAW. bersabda dalam hadits yang
diriwayatkan ‘Abdullah bin Mas’ud.
قَالَ اَيُّ ثُمَّ
قُلْتُ وَقْتِهَا عَلَئ الصَّلاَةُ قَالَ لَّلهِا الَّئ اَحَبُّ الْعَمَلِ اَيُّ ص النَّبِيَّ سَاَلْتُ قَالَ ر مَسْعُوْدٍ
الَّلهِ
عَبْدِعَنْ
.اللَّهِ سَبِيْلِ
فِي الْجِهَادِقَالَ اَيُّ ثُمَّ قُلْتُ الْوَالِدَينِ بِرُّ
“
Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud ra. Bahwa ia berkata : Aku pernah
bertanya kepada Nabi SAW. ‘perbuatan apa yang paling disukai Allah?’ Nabi
menjawab : ‘Shalat pada awal waktu.’ Kemudian apa lagi? Nabi menjawab :
‘Berbakti kepada orang tua.’ Kemudian apa lagi?’ Nabi menjawab : ‘Jihad di
jalan Allah.’ “
Dan dalam keterangan lain,
Amr Radhiyallahu Anhuma
berkata, “Seseorang datang meminta izin untuk berjihad brsama Nabi SAW. Nabi
bersabda, ‘Apakah orang tuamu masih hidup?’ ia menjawab ‘ya’ Nabi bersabda
“Berjihadlah dengan izin kedua orang tuamu”. (Dikeluarkan dalam kitab Shahih
Bukhari dan Shahih Muslim).
Lihatlah bagaimana
berbuat baik dan memberikan pelayanan kepada orang tua lebih diutamakan
ketimbang jihad?
Rasullullah SAW.
bersabda, Maukah aku beritahu kalian tentang dosa yang paling besar?
“Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.” Lanjutan hadits ini adalah :
….Asalnya Rasulullah bersandar lalu tegak duduk dan bersabda, “ ketahuilah, dan
ucapan dusta serta sumpah palsu“ beliau terus-menerus mengucapkan kata itu
hingga kami ( para shahabat ) berkata, ”seandainya saja beliau diam“.
Keterangan di tersebut menunjukan bahwasanya
termasuk dosa besar apabila seorang anak mendurhakai orang tua, baik itu
menyakiti hati mereka, mengucapkan kata-kata yantg tak pantas kepada mereka
ataupun tidak menghormati mereka sebagai orang yang telah melahirkan, mengurus,
membimbing hingga kelak kasih dan sayang mereka tak akan pernah hilang atau pun
berkurang kepada kita.
C.
Mendahulukan Ibu
Dalam kedua kitab shahih diriwayatkan :“Seseorang
datang kepada Rasulullah SAW. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang
berhak mendapat perlakuan baik ? Rasulullah SAW. menjawab, “ ibumu.” Ia
bertanya, kemudian siapa lagi ? beliau menjawab “ ibumu “. Kemudian siapa lagi
? beliau menjawab “ ibumu”. Ia menjawab lagi kemudian Rasulullah menjawab, “
ayahmu ”. HR. al-Bukhariy.
Takhrij Hadits.
Selain Imam al-Bukhoriy
yang meriwayatkan hadits diatas ,Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam
at-Tirmidzi, dan Imam Ibnu majah pun meriwayatkan juga. Matan diatas adalah
yang dicatat oleh Imam al-Bukhariy dalam kitab adab, Babul Birri wa Shilah
dengan sanad sebagai berikut; Kata beliau, telah menceritakan kepada kami Quttaybah
bin Said, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari ‘Umarah bin al-Qa’qa, bin
Syubrumah, dari Abi Zur’ah, Dari Abu Hurayrah r.a. Imam Muslim meriwayatkan
hadits ini melalui sanad yang sama, dengan matan yang berbeda namun sema’na.
Imam Abu Daud dan at-Tirmidzi
juga meriwatkan hadits yang semakna. Diterima dari Bahiz bin Hakim dari
bapaknya dari kakeknya yaitu Mu’awiyyah bin Haydah. Ia bertanya kepada
Rasulullah Saw,
…..فالاقرب الاقرب ثمّ اباك،ثمّامّك،ثمّامّك،ثمّامّك،
قالابرّمن
“Kepada
siapa saya harus berbuat baik?” Jawab Rasulullah Saw, “Ibumu, kemudian ibumu,
kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian keluarga paling dekat kemudian
keluarga yang dekat...”
Melihat susunan sanad
yang dilalui Imam Abu daud dan Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani
juga memperkirakan bahwa seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw. yang
dimaksud oleh Abu Hurayrah itu adalah Mu’awiyyah bin Haydah.
Rasulullah SAW.
mengulangi kewajiban berbakti kepada ibu hingga tiga kali sedangkan kepada ayah
hanya satu kali. Hal itu disebabkan derita seorang ibu lebih besar dari pada
ayah dan kasih sayang yang diberikannyua juga lebih besar daripada ayah. Belum
lagi jika dibandingkan dengan beratnya mengandung, kontraksi, melahirkan,
berjaga malam dan masih banyak lagi.
Jadi, dari keterangan diatas bahwasanya seorang anak
dianjurkan lebih mengutamakan seorang ibu ketimbang ayah, yang dilihat dari
pengorbanan seorang ibu lebih besar dari pengaorbanan seorang ayah.
مّهاتالااماقد تحت الجتّة
“
Surga terletak dibawah telapak kaki para ibu “
D.
Durhaka kepada Kedua Orang Tua
Allah SWT. berfirman :
….إِحْسَانًاالِدَيْنِوَبِالْوَإِيَّاهُإِلآ
تَعْبُدُوا أَلاَّ رَبُّكَوَقَضَى
“
Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah
kamu berbuat baik kepada ibu bapak mu dengan sebaik-baiknya…
….أُفٍّلَّهُمَا تَقُلفَلاَهُمَاكِلاَأَوْ أَحَدُهُمَا الْكِبَرَ
عِندَكَ يَبْلُغَنَّإِمَّا
…Jika
salah seseorang diantara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan “ AH “….
Artinya, janganlah
berkata-kata kasar kasar kepada keduanya jika mereka telah tua dan berumur.
Selain itu wajib bagimu untuk memberikan pengabdian kepada mereka sebagaimana
mereka berdua memberikan pengabdian padamu. Keutamaan biasanya lebih dimiliki
yang pertama, bagaimana mungkin kedua pengabdian itu bisa disamakan? Kedua
orang tuamu menahan segala derita mengharapkan agar kamu bisa hidup. Sedangkan
jika kamu menahan derita karena keduanya, kamu mengharapkan kematiannya. Allah
melanjutkan firmannya,
( 23 : اءسرالا ). كَرِيمًا
قَوْلاً لَّهُمَا وَقُلهُمَاوَلاَتَنْهَرْ…
“…dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (al-Isra’ : 23)
[ 24 : اءسرالا ] .صَغِيرًارَبَّيَانِيكَمَاارْحَمْهُمَارَّبِّ
“Ya
Allah limpahkanlah rahmatmu kepada ibu bapakku sebagaimana mereka mengurus
ketika aku masih kecil “.
Allah Ta’ala berfirman,
الْمَصِيرُ إِلَىَّ الِدَيْكَوَلِوَ
لِي اشْكُرْأَنِ…..
“Agar
kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, dan kepada-Ku lah
kembalimu”. ( Luqman : 14 ).
Ada tiga ayat yang diturunkan dan dikaitkan dengan
tiga hal, tidak dterima salah-satunya jika tidak dengan yang dikaitkannya :
1. Firman
Allah, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Maka barangsiapa taat
kepada Allah namun tidak taat kepada Rasul, ketaatannya tidak diterima“.
2. Firman
Allah, “Dan dirikanlah shalat serta tunaikan zakat”. maka barangsiapa yang
melakukan shalat namun tidak mengeluarkan zakat maka tidaklah diterima.
3. Firman
Allah, “Agar kamu bersyukur kepadaku dan kepada kedua orang tua mu“. Barang
siapa yang bersyukur kepadaku namun tidak bersyukur kepada ibu bapak tentu saja
itu akan sia-sia.
E.
Hikmah Berbakti Kepada Orang Tua
Berbakti kepada orang
tua adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim. Oleh karena itu seorang anak
akan mendapatkan hikmah apabila ia melaksanakan kewajiban tersebut, diantaranya
:
Ø Mendapatkan
ridha Allah SAW.
Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW. “ Keridhaan Allah ada dalam keridhaan ibu bapak dan kemurkaan
Allah ada dalam kemurkaan orang tua”. ( Diriwayatkan Tirmidzi dari hadits
Abdullah Bin Amr ). Amr Radhiyallahu Anhuma berkata, “ Seseorang datang meminta
izin untuk berjihad brsama Nabi SAW. Nabi bersabda, ‘ Apakah orang tuamu masih
hidup?’ ia menjawab ‘ya’ Nabi bersabda “Berjihadlah dengan izin kedua orang
tuamu”.
( Dikeluarkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim ).
Ø Terhindar
dari dosa besar.
Dalam kitab shahih
Bukhari dan shahih muslim, Rasulullah SAW. bersabda, Maukah aku beritahu kalian
tentang dosa yang paling besar? Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang
tua.” Lanjutan hadits ini adalah : ….Asalnya Rasulullah bersandar lalu tegak
duduk dan bersabda, “ ketahuilah, dan ucapan dusta serta sumpah palsu “ beliau
terus-menerus mengucapkan kata itu hingga kami ( para shahabat ) berkata,”
seandainya saja beliau diam “.
Ø Sebab
bertambahnya rizki.
Dijelaskan dalam hadits
Anas Bin Malik, Rasulullah SAW. bersabda : “ Barangsiapa yang ingin
dipanjangkan usianya dan ditambahkan rizkinya, maka hendaklah dia ihsan kepada
orang tuanya dan menyambung hubungan kekerabatanya “.
Ø Menjamin
terlahirnya anak-anak shaleh.
Diriwayatkan dalam
hadits Ibnu Umar, Rasulullah bersabda : “ berbuatlah ihsan kepada bapak-bapak
kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbuat Ihsan kepada kalian. Peliharalah
kesucian diri kalian, niscaya istri-istri kalian akan memelihara kesucian diri
mereka “.
Ø Balasan
surga dari Allah SAW.
Didalam hadits yang
diriwayatkan Ibnu Majah, Nasa’i, dan Hakim dari hadits jahimah, Rasulullah
bersabda, “ Surga terletak dibawah telapak kaki para ibu “ oleh karena itu,
kita harus berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu yang dinilai
pengorbanan dan kasih sayangnya lebih besar ketimbang ayah.
F.
Do’a Kepada Kedua Orang Tua
[ 24 : اء سرالا ] .صَغِيرًا
رَبَّيَانِي كَمَا ارْحَمْهُمَا رَّبِّ
“
Ya Allah limpahkanlah rahmatmu kepada ibu bapakku sebagaimana mereka mengurus
ketika aku masih kecil “
Banyak ayat Al Qur’an
maupun Al-Hadits yang menerangkan bahwa berbuat baik kepada ibu bapak itu
wajib. Bahkan, termasuk amal yang paling utama setelah beribadah dengan ikhlas
kepada Allah SWT.
Allah SWT. berfirman :
……..إِحْسَانًا وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِيَّاهُ إِلآ تَعْبُدُوا لاَّ أَ رَبُّكَ وَقَضَى
“
Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan
hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak mu dengan sebaik-baiknya( Al Israa
( 17 ) : 23 ).
…….إِحْسَانًا وَبِالْوَالِدَيْنِ
شَيْئًا بِهِ وَلاَتُشْرِكُوا اللهَ اعْبُدُوا
“
Beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kamu sekutukan dia dengan sesuatu
apapun dan berbaktilah kepada ibu bapakmu… ( An-Nisa : 36 ).
Keistimewaan
Berbakti Pada Orangtua
"Bila kepada ibumu engkau
berbakti, maka Allah yang paling bersyukur Dia membalas amal baktimu dengan
pahala yang amat besar sekalipun amal yang kau lakukan minim, sangat sedikit
"
Kami untuk yang ketiga kalinya akan membahas topik
bagaimana kita harus berbakti pada orangtua, karena berbakti kepada orangtua
merupakan salahsatu sendi agama yang harus senantiasa diperhatikan karena
berbakti pada orangtua bisa menjadi penebus dosa dan menambah keberkahan hidup.
1. Sebagai Penebus Dosa
Imam Tirmidzi dan Ibnu
Hibban menyuguhkan sebuah riwayat bersumber dari Abdullah bin Umar: Pada suatu
ketika ada seorang lelaki datang menghadap Rasuluilah, seraya berkata: "Ya
Rasulallah, aku telah melakukan dosa besar. Adakah taubatku masih bisa
diterima?" Rasuluilah balik bertanya:" Adakah ibumu masih
hidup?" Dalam riwayat lain diterangkan,bahwa Rasuluilah bertanya:
"Adakah kamu masih memiliki kedua orangtua?" Jawabnya: "Tidak,
aku sudah tidak memiliki orangtua." Lantas Rasulullah kembali bertanya:
"Adakah kamu masih memiliki bibi (saudara perempuan ibu)?" Jawabnya:
"Ya, masih." Kemudian Rasuluilah bersabda: "Sebagai tebusannya,
berbaktilah kepada bibimu." Dalam pandangan Islam, khalah (bibi)
kedudukannya adalah sama dengan ibu
Ibnu Abbas pada suatu ketika bercerita kepada Atha'
bin Yasar, bahwa ada seorang lelaki datang menghadap kepadanya. Lelaki itu
bertanya: "Ya Ibn Abbas, aku telah melamar seorang wanita jelita. Tetapi
dia menolak lamaranku. Pada saat yang lain dia dilamar lelaki lain, dan lamaran
itu diterima. Hal tersebut membuat hatiku kalut dan cemburu, sehingga wanita
Itu aku bunuh. Ya Ibn Abbas, masihkah terbuka pintu taubat bagiku?" Ibnu
Abbas lalu bertanya: "Adakah ibumu masih hidup?" Jawabnya:
"Tidak, ibuku sudah meninggal." Selanjutnya Ibnu Abbas berkata:
"Bertaubatlah kepada Allah dan bertaqarrublah kepada-Nya dengan semaksimal
mungkin."
Dalam kisah di atas ditegaskan, bahwa kemudian Atha'
mengajukan pertanyaan kepada Ibnu Abbas: "Mengapa kamu menanyakan apakah
ibunya masih hidup atau sudah meninggal?" Jawab Ibnu Abbas: "Aku
belum pernah mengetahui suatu amalan pun yang lebih mendekatkan diri kepada
Allah selain daripada berbakti kepada ibu." Keterangan ini juga
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalara kitab Al-Adahul-Mufrad, dan oleh Imam
Baihaqi dalam kitab Syu 'abul-lman.
Jadi, "berbakti kepada orangtua, pada dasarnya
dapat melebur dosa besar." Ini sejalan dengan riwayat yang dinuqil Imam
Safarini dalam kitab Syarah Manzhumatil Adab yang bersumber dari Imam Ahmad.
Yakni berbakti kepada orangtua dapat melebur dosa-dosa besar. Dan Imam Ahmad
menegaskan, bahwa keterangan ini berdasarkan apa yang dituturkan oleh Imam Ibnu
Abdil-Bar dari Makkhul.
2. Menambah Keberkahan Hidup
Rasulullah telah
menghimbau dengan sabdanya: "Barangsiapa ingin panjang umur dan beroleh
rizki melimpah ruah, maka hendaklah dia berbakti kepada orangtua dan menyambung
tali persaudaraan." (HR Imam Ahmad dari Anas bin Malik).
Rasulullah telah menegaskan, bahwa barangsiapa
berbakti kepada orangtua, maka dia akan memperoleh kebahagiaan panjang umur
yang penuh keberkatan.(HR. Imam Abu Ya'la dan Thabrani bersumber dari Mu'adz
bin Jabal)
ü Imam
Ibnu Majah dan Ibnu Hibban menyuguhkan sebuah riwayat bersumber dari Tsauban,
bahwa Rasulullah pada suatu ketika pernah menegaskan bahwa seseorang adakalanya
mendapat kesempitan ekonomi sebagai akibat dari dosa yang dilakukan. Dan tidak
ada yang dapat menolak takdir Allah kecuali doa, serta tidak ada yang dapat
menambah keberkatan umur kecuali dengan berbakti kepada orangtua. Jadi, dalam
konteks ini Rasulullah menggariskan, bahwa kelapangan rizki serta keberkatan
hidup dapat digapai dengan memperbanyak taubat dan meningkatkan
birrul-walidain.
ü Imam
Hakim juga mengetengahkan sebuah riwayat yang bersumber dari Abi Hurairah,
bahwa Rasulullah telah berpesan, "Berbaktilah kepada kedua orangtuamu,
tentu anak-anakmu kelak akan berbakti kepadamu. Barangsiapa dimintai maaf oleh
saudaranya hendaklah dia memaafkannya, baik dia berada di pihak yang benar
maupun di pihak yang salah. Apabila dia tidak melakukannya, maka kelak tidak
akan dapat mendatangi telagaku di sorga."
ü Imam
Thabrani meriwayatkan sebuah hadis bersumber dari Abdullah bin Umar, bahwa
Rasulullah pernah berpesan: "Berbaktilah kepada orangtuamu, niscaya
anak-anakmu akan berbakti kepadamu. Peliharalah kehormatan istri orang lain,
niscaya istrimu juga akan terpelihara dari perbuatan tercela."
Jadi, orangtua adalah
cermin masa depan anak. Bila dalam rumahtangga terbina hubungan yang harmonis
antar anggota keluarga, saling memenuhi hak masing-masing serta saling
menghormati, maka sudah barang tentu anak-anak pun pada masa mendatang akan
selalu menjunjung tinggi perintah orangtua, memelihara dan menjaganya ketika
sudah lanjut usia. Sebab pada awal mulanya orangtua tersebut telah memberikan
contoh langsung dalam bentuk perbuatan berbakti kepada orangtua. Artinya,
orangtua tersebut telah melakukan birrul walidain di hadapan anak-anak,
sehingga mereka tidak merasa berkeberatan mengikuti jejak langkah orangtuanya.
Kebiasaan dalam rumahtangga akan dibawa oleh anak-anak dalam mengarungi jenjang
rumahtangga baru. Karena itu suasana damai, saling menghormati, dan penuh kasih
harus diciptakan setiap saat. Cara yang paling tepat adalah dengan memelihara
dan memenuhi hak masing-masing.
Imam Nasai menyuguhkan sebuah riwayat bersumber dari
Aisyah, bahwa Rasulullah pernah bercerita: Ketika beliau memasuki sorga, mendengar
sebuah qiraah (bacaan Al-Qur'an). Beliau bertanya: "Siapa dia?"
Jawabnya: "Dia adalah Haritsah bin Nukman yang selalu berbakti kepada
ibunya." Suara merdu alunan kalam Ilahi tersebut sebagai balasan atas
kebaikannya dalam berbakti kepada orangtua. Dan memang Haritsah bin Nukman
seorang yang paling berbakti kepada orangtua, sehingga memperoleh kedudukan
serta derajat tinggi di sorga.
Pada suatu ketika ada seorang lelaki datang kepada
Abi Darda', lalu bercerita. Dalam ceritanya dia berkata: "Ayahku hingga
kini masih selalu mengatur diriku, sekalipun aku sudah dinikahkan. Bahkan
sekarang memerintahkan kepadaku agar menceraikan istriku." Abi Darda'
mendengar pengaduan lelaki tersebut langsung berkata: "Aku bukan termasuk
model orang yang akan menyuruh kamu mendurhakai orangtua, dan bukan pula orang
yang memerintahkan kepadamu untuk menceraikan istri. Tetapi kalau kamu bersedia
mendengarkan, aku akan menyampaikan sesuatu yang pernah aku dengar dari
Rasulullah. Beliau pernah bersabda: "Ayah adalah pintu sorga yang paling
tengah. Maka bila kamu mau, peliharalah pintu itu. Dan jika tidak, maka
tinggalkanlah." Demikian Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dalam kitab
Shahihnya.
*Imam Baidhawi menjelaskan tentang maksud hadis di
atas, bahwa amal perbuatan yang paling tepat untuk dijadikan sarana masuk
sorga, serta jalan yang paling tepat untuk meraih derajat yang mulia dan
kedudukan yang luhur di dalam sorga, adalah berbakti kepada kedua orangtua,
menghormati, menyantuni, dan memelihara serta mengendalikan diri jangan sampai
menyinggung apalagi menyakiti perasaan maupun badannya.
*Imam Al-Hifni menegaskan, bahwa pengertian yang
terkandung dalam hadis tersebut adalah bahwa taat dan berbakti kepada orangtua
merupakan penyebab yang mengantar seseorang masuk pintu sorga yang paling
utama, dan bersukaria di dalamnya. Jadi, yang dimaksud: Ayah adalah pintu sorga
yang paling tengah bukanlah suatu pengertian kongkrit. Tetapi sejalan dengan
sebuah riwayat hadis marfu'yang menegaskan: "Pintu sorga yang paling
tengah selalu terbuka bagi mereka yang berbakti kepada kedua orangtua.
Cara berbakti kepada orang tua bisa dilakukan secara
lahir. Seperti dengan mengikuti segala nasihat baik, membuat hati mereka
senang, dan berkata sopan. Dengan cara batin, setiap saat selalu mendoakan
mereka. Karena bakti anak kepada orang tua tidak sebatas ketika mereka masih
hidup, tapi selamanya.
Barangsiapa berbakti kepada kedua orangtua, baginya
dibukakan pintu surga. Dan barangsiapa durhaka kepada kedua orangtua, maka
pintu sorga tertutup buatnya." Jadi, sorga hanya diberikan kepada
seseorang yang berbakti kepada orangtua. Dan pintu neraka terbuka luas bagi
mereka yang mendurhakainya. Demikian Ibnu Syahin mengetengahkan sebuah riwayat
dalam kitab At-Targhib, dan Imam Dailami dalam kitab Musnadul-Firdaus.
Keberkatan hidup, kebahagiaan lahir batin bagi
seseorang sangat tergantung pada bagaimana dia menyikapi terhadap orangtua.
Semakin tinggi tingkat ketaatan dan kebaktiannya, maka keberkatan hidup yang
semakin luas pun menyertainya.
Semoga kita semua dapat memahami dan mengamalkan
teladan dari kisah-kisah sahabat yang semuanya diriwayatkan dalam hadist Nabi
SAW, Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin..
Do’a
Untuk Orang Tua
صَغِيْرَا كَمَارَبَّيَانِيْ وَارْحَمْهُمَا وَلِوَالِدَيَّ
اغْفِرْلِيْ اَللّهُمَّ
“Alloohummaghfirlii
waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.
Artinya:
“Wahai
Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka
menyayangiku diwaktu kecil”.
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menaati
perintah orang tua adalah wajib, selama bukan untuk maksiat. Bahkan perintah
melakukan yang mubah, bila itu keluar dari mulut orang tua, berubah menjadi
wajib hukumnya. Kita juga tahu, bahwa harta orang tua harus dijaga, tidak boleh
dihamburkan secara percuma, atau bahkan untuk berbuat maksiat. Kita juga
meyakini, bahwa bila orang tua kita kekurangan atau membutuhkan pertolongan,
kitalah orang pertama yang wajib menolong mereka. Namun itu hanya sebatas
keyakinan. Bila tidak ada ‘ikatan janji’ dengan sikap kita, semua itu hanya
terwujud dalam bentuk wacana saja, tidak bisa terbentuk menjadi ‘bakti’
terhadap orang tua. Oleh sebab itu, Allah menyebut kewajiban bakti itu sebagai
‘ketetapan’, bukan sekadar ‘perintah’. Berbuat baik kepada kedua orang tua
adalah suatu bentuk ibadah yang di utamakan dan merupakan salah satu untuk
meraih surgenya Allah.
Saran
Sebaiknya mulai saat ini kita menyadari bahwa kita
tidak akan pernah ada dan bisa tumbuh seperti sekarang ini kalau bukan karena
kasih sayang kedua orang tua kita, oleh karena itu, hendaklah kita selalu
menaati segala perintah kedua orang tua kita.
Penutup
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat
dijadikan sumber pengetahuan tentang bagaiman cara berbuat baik kepada kedua
orang tua, serta ucapan mohon maaf sebesar-besarnya bila terdapat kekeliruan
yang tidak disengaja dan kekurang lengakapan bahan makalah ini karena Saya
menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini. Oleh
karena itu, Saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan makah ini. Akhir kata wabillahi taufik walhidayah wassalamu
alaikum wr.wb.